Ada Apa Dengan Bank Sentral ?

Eropa melemah, US tidak akan menaikan suku bunga dalam waktu dekat, komoditi turun, sebenarnya fenomena ini cukup membuat para pelaku pasar menjadi kehilangan arah pasti dalam pasar yang belum terlihat jelas arahnya. Harga bolak balik merupakan cermin atas kebimbangan market di minggu ini.

Fundamental

Jika kita cermati maka sudah ada 3 petinggi Bank Sentral (The Fed, Pbo China dan ECB dalam konfrensi press nya minggu lalu) yang mengatakan bahwa inflasi yang tinggi disebabkan oleh harga komoditi yang tinggi dan hanya bersifat sementara. Semua sepakat bahwa perlambatan ekonomi global terjadi karena krisis nuklir di jepang dan panasnya politik di timur tengah sehingga harga minyak beranjak naik, dan anehnya semuanya sepakat dengan kedua peristiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu. OPEC meeting pun berakhir dengan ketidak sepakatan dalam menaikan out put produksi agar harga minyak tidak terlalu tinggi. Skenario penurunan harga komoditi lewat ETCF dan wacana bahwa pertumbuhan ekonomi global melambat sepertinya sudah mulai di jalankan untuk menurunkan tingkat inflasi dunia tanpa harus menaikan suku bunga. Permasahan berikutnya adalah Jika negara besar tidak akan menaikan suku bunga maka emerging market akan mulai berhitung kembali untuk menaikan suku bunga agar tidak terjadi Bubble dalam perekonomiannya dan inflasi akan meroket tentunya.

Kecemasan hutang Yunani membuat investor mencoba menurunkan ekspektasi laju kenaikan suku bunga ECB. Simpang siurnya berita mengenai perkembangan proses bailout Yunani membingungkan para investor, dengan keinginan Jerman agar investor swasta turut berkontribusi pada bailout kedua, meski setelah ECB mengutarakan keengganannya menambah bantuan bagi Yunani. Perpecahan di antara para petinggi zona Euro telah mengguncang pasar mata uang, yang menambah kekhawatiran bahwa krisis dapat berlangsung lebih lama dan menekan euro. “Presiden ECB Jean-Claude Trichet telah memperdalam kebuntuan antara ECB dan Jerman, sehingga sulit untuk mengetahui apakah atau bagaimana akan tercapai kesepakatan mengenai masalah hutang Yunani sebelum tenggat waktu pada akhir bulan ini,” kata Jane Foley, analis mata uang Rabobank. “Dengan adanya ketidakpastian ini, pasar mencoba bermain aman dengan menjual Euro.”

Banjir uang Federal Reserve yang mendukung Wall Street dan perekonomian AS untuk 2-1/2 tahun akan berakhir dengan pengumuman pembelian obligasi Fed pada hari Jumat. Fed mengatakan akan membeli obligasi senilai 50 milyar dollar, yang merupakan seri terakhir program pembelian obligasi dan menandai berakhirnya QE2 yang diluncurkan pada November 2010 guna mencegah resesi kembali. Sebagai hasilnya, begitu program ini berakhir tanggal 30 Juni, sektor finansial hanya akan menerima sebagian kecil dari sekitar 100 milyar dari Fed. Berakhirnya program pembelian obligasi Fed tidak berari bahwa stimulus berhenti seluruhnya. Fed akan kembali menginvestasikan sekuritas yang jatuh tempo, terutama sektor kredit perumahan, yang diprediksikan analis akan mencapai 12 hingga 16 milyar dollar perbulan. Kendati jumlah uang yang dihasilkan cukup besar, ini merupakan penurunan tajam dari level stimulus QE2, dan ini meragukan pasar karena QE2 merupakan ronde kedua dari program pembelian aset pasca krisis finansial tahun 2008.

Euro tidak untuk di beli, US dollar harus menunggu tanggal 22 Juni 2011 (The Fed mengeluarkan Kebijakan Moneter), Aussie bukan pilihan yang baik untuk dibeli karena harga komoditas akan menurun jika terjadi perlambatan ekonomi global. Safe haven Currency (USDJPY dan USDCHF) apakah merupakan alternatif para pelaku pasar di minggu ini?

About Reza File

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia email : rz_aswin@yahoo.com

Check Also

HAWKISH or DOVISH

Reza Aswin –  Jakarta, 3 Mei 2017   HAWKISH or DOVISH Dini hari nanti Pukul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat