Saturday , 21 September 2019

Gold – Bull …???

Sampai saat ini Gold mencetak kenaikan 13% pada tahun 2011 dan sekaligus merupakan kinerja gold terburuk dalam kurun waktu 3 tahun.  Mulai hilangnya status Safe Haven pada emas dimana untuk jangka menengah nampaknya emas akan berasosiasi denga aset beresiko dan dapat tertekan turun ketika dollar AS menguat. Keberadaan ini disebabkan antara lain :

  1. India yang selama ini telah memberikan sumbangsih yang cukup signifikan terhadap menguatnya emas (Pada tahun 2010 India merupakan pasar terbesar untuk cincin emas dan perhiasan yang lainnya yaitu sebesar 745.70 ton, lebih tinggi dari daratan Cina yang pada tahun 2010 sebesar 428.00 ton), akhir-akhir ini nampak permintaan untuk emas perhiasan di India jatuh sebesar 26% dari tahun ke tahun pada kuartal ketiga. Keadaan ini dikarenakan perekonomian India sedang mengalami penurunan yang cukup tajam, dan berakibat rupee anjlok 18% terhadap dolar AS sehingga membuat harga emas lebih tinggi dan menurunkan minat masyarakat untuk membeli emas. Harga emas naik 13% dalam mata uang Dolar AS, sedangkan berdasarkan mata uang rupee emas telah meningkat 34%. Berdasarkan data World Gold Council, bahkan ketika ada perayaan festival Diwali yaitu hari yang dianggap sebagai hari baik untuk membeli perlengkapan , terutama logam mulia seperti perak dan emas, permintaan untuk emas tetap rendah.
  2. Berita akuisisi  perusahaan European Gold fields Ltd oleh Eldorado Gold Corp senilai C$ 2,5 miliar atau US$ 2,5 miliar ini merupakan akuisisi terbesar yang dilakukan perusahaan yang berbasis di Vancouver. Dengan akuisisi ini, Eldorado dipastikan bakal membuka proyek penambangan emas di Yunani, Rumania, dan Turki. Diharapkan hingga 2015 output perusahaan meningkat dua kali lipat. Sepeti kita ketahui bahwa peningkatan output karena pembukaan tambang emas yang baru akan membuat supply menjadi lebih tinggi. Harga dapat saja terus naik walaupun output tinggi jika Demand jauh lebih tinggi pada saat yang bersamaan. Harga emas pada 10 tahun terakhir terus menunjukkan kenaikan sehingga mencapai rekor US$ 1.923,70 per ons pada perdagangan 6 september 2011 di New York. Hal inilah yang membuat laba El dorado makin kinclong. “ Kesepakatan ini akan meningkatkan pertumbuhan dengan biaya lebih rendah,” kata Brad Humphrey, analis pertambangan Raymond James Ltd.
  3. Di lain pihak, pasar ingin melihat apakah operasi likuiditas bank sentral Eropa, yang diluncurkan pekan lalu, bisa redakan permasalah pendanaan perbankan dan perbaiki kondisi pasar obligasi. Italia dijadwalkan melelang obligasi pada hari Kamis yang jika sukses dapat menopang performa euro. Namun, yield obligasi Italia bertenor 10 tahun kembali lewati level krusial 7% pada Jumat silam; indikasi investor masih cemaskan potensi penyebaran krisis utang.

Namun perlu menjadi perhatian bahwa selain faktor fundamental masih ada faktor teknikal yang mempengaruhi harga emas dalam beberapa waktu kedepan.

Jika dilihat dari timeframe D1 maka Uptrend Gold sudah mulai dilewati dan sudah 8 hari berturut turut harga emas tidak dapat closing diatas Fibo 38.2%. Belum lagi Stoch 533 terlihat cross menuju bawah. Secara teknikal, emas akan memasuki areal Triangle jika melewati $1630 dan akan keluar dari downtrend jika berhasil close diatas $1730. Support emas terletak di level $1566 sebelum menuju ke level $1540 dan $1450 / troy once.

Keadaan ini diperkuat karena ada trend penguatan dollar terutama berkat solidnya data perumahan AS serta data yang buruk dari Eropa akhir akhir ini. Fenomena diatas merupakan situasi ideal dimana tedapat suatu keadaan “Click” antara Fundamental dan Teknikal yang akan berakhir dengan turunnya harga Emas. Tetapi perlu ditelaah bahwa perekonomian dunia tidak hanya berisikan Negara Amerika Serikat dan Zona Eropa, masih ada 2 negara yang sangat berpengaruh dalam bidang ekonomi dunia, yaitu Republik Rakyat China dan Japan. Jepang dan China akan mulai mempromosikan perdagangan langsung antara Yuan dan Yen tanpa menggunakan dollar AS dan akan mendesak perkembangan pasar untuk perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam dua mata uang tersebut, dikatakan pemerintah Jepang.

Jepang juga akan menerapkan pembelian terhadap obligasi China tahun depan, membuka peluang investasi di Yuan yang memberikan peluang untuk China selama transaksi tersebut berlangsung, dikatakan pemerintah Jepang dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan antara Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda dan Perdana Menteri China, Wen Jiabao, di Beijing. Desakan untuk diadakannya transaksi yen-yuan akan mengurangi tingkat resiko mata uang dan beban perdagangan, kembali ditambahkan pemerintah Jepang.
China adalah rekan bisnis terbesar Jepang dengan nilai transaksi antara 2 negara tersebut sebesar 26.5 triliun Yen (setara dengan $340 miliar) tahun lalu, dari decade sebelumnya sebesar 9.2 triliun Yen. Kesepakatan antara 2 negara ekonomi terbesar kedua dan ketiga terbesar dunia tersebut memperlihatkan maksud dari para fund managers untuk melakukan diversifikasi saat krisis hutang Eropa yang masih berlangsung membuat gejolak dipasar keuangan global.“Dengan besarnya tingkat transaksi perdagangan antara 2 negara terbesar Asia tersebut, kesepakatan yang berlangsung akan menjadi sangat berpengaruh daripada kesepakatan yang dilakukan China sebelumnya, dengan negara-negara lainnya”, dikatakan Ren Xianfang, seorang ekonomi yang berbasis di Beijing untuk HIS Global Insight Ltd.

Gold – Bull  ? Anda lebih tahu dibandingkan saya

About Reza File

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia email : rz_aswin@yahoo.com

Check Also

APA YANG HARUS DILAKUKAN TRADER SEBELUM TRADING FOREX

Reza Aswin, 20 April 2017   Apa yang Harus dilakukan TRADER Sebelum TRADING FOREX   …

WhatsApp chat