Saturday , 21 September 2019

Time Crisis 2……

Setelah Bank Dunia menurunkan angka pertumbuhan perekonomian dunia maka pasar langsung bergerak keluar dari semua produk beresiko. Kinerja untuk mengatasi Krisis Keuangan di Zona Eropa oleh ECB dan IMF mulai terasa bagaikan memberikan garam dilautan, karena sentiment market mulai terlihat mengarah pada antisipasi keadaan Resesi Ekonomi Global. Tidak adanya kemauan dari setiap negara eropa untuk mereformasi kebijakan fiskal nya, sampai sampai pimpinan IMF Christine Lagarde mendesak pimpinan dunia untuk melakukan apapun demi memperbaiki sistem keuangan global yang masih berupaya pulih dari krisis keuangan 2007-2009 dan berlarutnya krisis utang zona-euro. Kita mengetahui bahwa Krisis di Eropa merupakan imbas bencana keuangan di tahun 2008 yang menghantam Lehman Brother di Amerika Serikat dan sepertinya Snowball ini akan terus bergulir kesetiap negara karena tidak ada satupun negara yang tidak menggantungkan perekonomiannya terhadap negara lain.

Amerika Serikat melalui Federal Reserve mengatakan bahwa perekonomian masih tumbuh secara moderat serta masih tingginya tingkat pengangguran oleh karena itu Fed tetap mempertahankan program pembelian obligasi sebesar $40 milyar/bulan yang bertujuan untuk memacu ekspansi tiga tahun kedepan dengan suku bunga yang rendah. Terlihat jelas bahwa The Fed menerapkan  Kebijakan Moneter Super Longgar dengan dana yang tidak terbatas jumlahnya. Pelemahan Dollar merupakan target The Fed dalam menguatkan Dowjones agar 12,1 juta penganguran di Amerika serikat dapat teratasi dengan Inflasi yang stabil.

Hantaman keras kembali terjadi di Perancis dimana BNP Paribas S.A (French global banking group, headquartered in Paris) di downgrade oleh S & P menjadi A+. Resiko ekonomi di tempat bank Perancis beroperasi kian meningkat, membuat sektor perbankan Perancis lebih rentan terhadap potensi resesi yang berkepanjangan di zona euro,” menurut pernyataan S&P. Secara keseluruhan, penilaian S&P terhadap perekonomian Perancis masih cukup stabil, meski ketahanannya terhadap event luar negri berkurang. Lingkungan ekonomi yang sulit, termasuk suku bunga  yang rendah, akan terus menekan tertumbuhan pendapatan bagi perbankan Perancis pada tahun 2013 hungga 2014, menurut S&P. Dengan melihat Negara dengan perekonomian terbesar ke 2 di eropa ini mulai terguncang maka pasar akan melihat adanya celah bahwa ECB akan menurunkan kembali tingkat suku bunganya.

Disisi lain dimana Raksasa perekonomian terbesar ke 3 di dunia (Japan) menapakan kakinya kedalam jurang Deflasi yang sama seperti negara tersebut jatuh dalam ” The Lost Decade”. Penguatan Yen yang berakibat terhadap daya saing ekspor product Japan dan berimbas pada penurunan daya beli domestik meyebabkan tingginya stock barang merupakan suatu ancaman serius perekonomian di negara matahari terbit ini. Kebijakan moneter yang akan diambil Bank of Japan pada tanggal 30 Oktober 2012 merupakan kebijakan yang sangat ditunggu pasar mengingat Menteri Ekonomi Jepang, Seiji Maehara, menginginkan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut seiring Jepang masih terperangkap di dalam jurang deflasi. “Bank sentral di berbagai negara maju telah melonggarkan kebijakan moneternya. BoJbahkan telah menetapkan target inflasi 1% pada pertemuan Februari namun ini belum pernah tercapai,” ujar Maehara setelah menghadiri pertemuan kabinet.

Bagaimana dengan China? China pun demikian. Eonomic bubble yang sempat terjadi tahun 2009, membuat pemerintah Beijing berusaha untuk menekan tingkat pertumbuhan real estate, dengan  berusaha untuk memulihkan kondisi ekspor dan impor yang turun secara bersamaan. Dengan cadangan devisa yang cukup besar sebenarnya China dapat merubah wajah perekonomian dunia dengan membantu pembelian obligasi negara negara yang terjangkit virus krisis keuangan, tetapi tentunya China akan berhati hati mengingat lembaga lembaga kredit rating dunia telah menurunkan peringkat negara negara tesebut bahkan beberapa negara surat hutangnya  telah masuk dalam katagori ” Junk” (Sampah).

Jika semua berlomba menerapkan kebijakan moneter super longgar, maka semua negara akan dihadapkan pada ” Sang Waktu ” dimana ” Resesi ” tentunya akan menjadi jawaban akhirnya. Mampukah The Fed, ECB, BoJ, BoE dan PBoC menyelesaikan pekerjaannya sebelum waktu habis ? menurut saya ini adalah ” Time Crisis 2 ” karena sebelumnya adalah 1929 dimana dunia dihadapkan pada  Great Depression. Untuk saya ini adalah suatu peluang untuk masuk dalam market…..jika anda tidak dapat melihat peluang ini maka silahkan hubungi Your Financial Consultant.

Have a nice Trade

 

About Reza File

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia email : rz_aswin@yahoo.com

Check Also

HAWKISH or DOVISH

Reza Aswin –  Jakarta, 3 Mei 2017   HAWKISH or DOVISH Dini hari nanti Pukul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp chat