China’s Devaluation

Reza Aswin | 17 Agustus 2015

 

Devaluasi mata uang China yang mencapai 3% diminggu lalu, dirasa sebagai ancaman bagi stock market dan mata uang berbasis komoditi. Beberapa Investor bertanya kepada kami :  “Akankah Devaluasi ini akan berlanjut pada waktu yang akan datang ?” . Sebelum kami menjawab pertanyaan diatas maka sebaiknya kita kembali membaca artikel sebelum artikel ini dirilis, dimana Devaluasi dibutuhkan oleh negara yang mempunyai nilai tukar tetap dan di kontrol oleh pemerintah, yang mana indikator ekonomi negara tersebut mengalami penurunnan nilai antara lain ekspor yang terus menurun dan industri manufaktur mulai mengalami penurunan kinerja dan lain lain.

Penurunan laju pertumbuhan ekonomi dunia yang berakibat terhadap turunnya inflasi dunia tentu membuat negara exportir seperti China mengalami goncangan terhadap industri didalam negerinya. 7 tahun US Dollar mempunyai kebijakan moneter suku bunga mendekati nol dan QE selama 6 tahun sejak Leman and Brother bangkrut, telah memompakan sekitar US$ 4,4 Triliun dalam ekonomi nya, mempunyai dampak pelemahan mata uang US Dollar diseluruh dunia dan berimbas penguatan mata uang lain didunia tanpa kecuali. Liquiditas US Dollar beberapa tahun belakangan telah membuat proteksi bagi ekonomi amerika secara kontinyu dan menyebarnya produk amerika serikat diseluruh dunia, sehingga membuat produk negara lain mulai tersisih di pasar dunia.

Karena produk amerika mulai membanjiri pasar dunia maka tidaklah mengherankan bahwa produk negara negara lain mulai terlihat sulit dalam bersaing dalam pasar global. Permintaan yang turun terus terhadap produk export mereka menjadikan boomerang saat ini, dimana laju pertumbuhan dunia terasa melambat dan China sebagai negara yang mempunyai kontribusi pasar dunia nomor 2, harus membuat suatu kebijakan moneter untuk melindungi negara dan rakyatnya. Penurunan suku bunga dan penurunan GWM dirasa masih kurang memberikan impact yang positif bagi perekonomian China, sampai akhirnya tanggal 11 agustus 2015 Peoples Bank of China memutuskan untuk dapat menerbitkan kebijakan moneter tentang “Adjustment” bagi Yuan dengan patokan harga rata rata harian.

Jika dilihat dari fenomena diatas maka Kebijakan Moneter PboC untuk mendevaluasi mata uangnya jelas semata mata untuk melindungi export China dan akan mencoba memenuhi target pertumbuhan ekonominya ditahun 2015 adalah 7%. Untuk itu selama indikator ekonomi China masih terlihat buruk atau negatif maka DEVALUASI masih akan dilakukan oleh PboC, tetapi tentunya jika dilihat telah membaik dan pertumbuhan ekonomi mereka sudah mendekati 7% maka dapat saja PBoC menetapkan Kebijakan Moneter REVAUASI. Seperti kita ketahui bahwa revaluasi merupakan lawan dari devaluasi, sehingga kedepannya kita dapat melihat bahwa Kebijakan Moneter PBoC akan bersifat 2 arah karena devaluasi dan revaluasi adalah suatu “ Adjustment” atau “Penyesuaian” terhadap mata uang yang bersifat fixed rate.

 

Contact Us

Reza Aswin : rz_aswin@yahoo.com

About Reza Aswin

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia, Email : rezafile1966@gmail.com

Check Also

Play with The Data

Reza Aswin, Jakarta 16 Juli 2017 Play with The Data   Sudah lama sekali saya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Hubungi Kami