Thursday , 24 September 2020
The shadow of the logo of Euro is seen on a U.S. one dollar note in this picture illustration taken in Madrid March 10, 2015. REUTERS/Sergio Perez

Euro dan Kebijakan ECB

Reza Aswin | 6 Desember 2015

 

Euro dan Kebijakan ECB

Pasar melihat adanya ECB  mulai mereda dan The Fed tetap mengetatkan kebijakan moneternya. Keadaan Euro dan Kebijakan ECB yang mereda inilah membuat eurusd terlihat rally akhir akhir ini, dimana pemotongan bunga deposito yang hanya 10 bps merupakan ketidak siapan Mario Draghi untuk memenuhi keinginan pasar 20 bps dan ada kebimbangan ECB untuk berhadapan dengan otoritas keuangan Jerman. Kita melihat bersama bahwa ada kesalahan pesan yang di sampaikan ke pasar dimana :

  1. Kebijakan moneter ECB yang berupa perluasan QE dalam jumlah besar akan tetap di luncurkan jika inflasi di eropa tidak kunjung datang, sehingga Mario Draghi sehari setelah memutuskan kebijakan moneter tersebut, langsung menyampaikan kembali pesannya bahwa “Mereka akan mengerahkan alat lebih lanjut jika diperlukan dalam rangka untuk mencapai tujuan inflasi tanpa penundaan”. Dilain sisi bahwa QE diperpanjang sampai bulan Maret 2017.
  2. Data tentang ketenaga kerjaan Amerika cukup baik dimana lowongan pekerjaan, rata rata pendapatan per jam tenaga kerja dan tingkat pengangguran yang solid di Amerika sebenarnya memberikan peluang awal bagi penguatan US Dollar, dan kita semua mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada tanda tanda Janet Yellen akan merubah arah tentang kenaikan suku bunga.

10 hari kedepan merupakan penentuan apakah The Fed akan berani menaikan suku bunga sebanyak 50 bps dan 75 bps pada tahun depan. Memang masih ada ruang bagi euro untuk naik kelevel 1.10 dan tentunya level 1.12 – 1.15 merupakan level terbaik untuk menjual eurusd karena pada titik tersebut Mario Draghi dan kawan kawannya akan kembali menaiki mimbar untuk menurunkan euro ketitik yang di harapkan. Jika euro dalam perdagangan minggu depan menembus 1.08 maka keberadaan level 1.0520 merupakan target euro yang sesungguhnya sebelum The Fed membuat kebijakan moneter pada tanggal 15 – 16 Desember 2015. Sedangkan kita sama sama mengetahui bahwa penundaan kenaikan suku bunga oleh The Fed hanya akan menimbulkan resiko dikemudian hari.

“Janet Yellen warned that delaying a rate hike is a risk”

 

Disisi lain harga minyak dunia yang berada di level $40/ barrel menimbulkan rumor bahwa pembatasan produksi minyak akan dilakukan, tetapi beredar pula rumor bahwa sesuai kesepakatan OPEC bahwa produksi normal atau berlebih akan tetap dijalankan walau harga terus turun. Sebaiknya kita mulai keluar dari BOX sehingga kita semua dapat melihat bahwa rendahnya harga minyak tidak dapat menolong INFLASI GLOBAL. Mulailah berfikir dengan cerdas sehingga dalam minggu ini kita bisa melihat bahwa data trade balance China dan Ritel Sales Amerika akan menunjukan keadaan inflasi global.

About Reza Aswin

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia, Email : rezafile1966@gmail.com

Check Also

Party is Over

Reza Aswin, 8 Mei 2017 Party is Over   Bagi para analis Fundamental, ini merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Hubungi Kami