Thursday , 24 September 2020

“Supercommittee”

Dominasi US Dollar saat ini terlihat sangat kuat diantara Major Currency dunia. Selain efek  teknikal tentunya maka harga US Dollar yang relatif murah di pasar beberapa waktu yang lalu membuat reboundUS Dollar sangat berarti saat ini. Secara Fundamental, Pemerintah Amerika masih menghadapi kendala ekonomi yang serius, dimana Kebijakan Moneter The Fed yang ” Ultra Longgar” dan Kebijakan Fiskal pemerintah Obama yang sedang dihadapkan dengan Rencana Pengurangan Defisit Anggaran Negara.

Badan komite khusus AS (Supercommitte) yang gagal untuk meraih kesepakatan berarti juga beberapa program pajak, termasuk pajak upah liburan, berisiko kadaluarsa di awal tahun depan sehingga membebani tingkat pengeluaran rumah tangga yang menyumbang sekitar 70% dari ekonomi terbesar dunia tersebut.  Panitia kongres Supercommittee Amerika yang ditugaskan untuk menyusun rencana pemotongan defisit sebesar $ 1.2 triliun gagal untuk mengumumkan hasil keputusan kongres yang direncanakannya pada hari Rabu kemarin.

Presiden Barack Obama pada hari Selasa telah kembali melakukan perjalanan kampanyenya untuk melobi perpanjangan pengurangan pajak gaji karyawan. Penurunan dua poin pajak gaji karyawan baru-baru ini akan berakhir pada akhir tahun. Jika program ini tidak diperpanjang, pajak per keluarga menjadi $ 50.000 akan naik sebesar $ 1.000. ” pajak gaji ini ditetapkan untuk berakhir pada akhir bulan depan,” ujar Obama setelah sempat di hadang oleh demonstran di Wall Street.”Akhir bulan depan, pada akhir tahun,  pemotongan pajak ini berakhir. Dan jika kita membiarkan itu terjadi – dan Kongres menolak untuk bertindak -. Kemudian keluarga kelas menengah akan mendapatkan pukulan dengan kenaikan pajak pada kemungkinan terburuk “ ”Di AS, kegagalan supercommittee berarti  bahwa kongres cenderung akan memperpanjang pemotongan pajak gaji atau tunjangan pengangguran federal,” ujar Michelle Meyer seorang ekonom di Bank of America Merrill Lynch.

Badan rating dunia mulai mengincar AS bila Kebijakan Fiskal mengarah kearah yang kurang menguntungkan, dimana Standard & Poors masih konfirmasikan rating kredit AA+ AS masih bertahan setelah melucuti rating kredit AAA pada 5 Agustus lalu.

Sementara Moody’s Investors Servicetetap mempertahankan AAA rating dengan outlook negatif. Sebelumnya, investor tidak terpengaruh oleh downgrade rating S&P pada bulan Agustus, dimana biaya pinjaman pemerintah AS malah turun ke rekor terendah seiring terjadi reli Treasury. Namun, Moody’s juga memperingatkan bahwa peringkat hutang AS dapat goyah, jika pemerintah mengurangi jumlah pemangkasan defisit dari jumlah 1.2 triliun untuk 10 tahun ke depan. Agensi rating ini mengatakan kegagalan “super committee” dalam mencapai kesepakatan pemangkasan defisit tidak mempengaruhi rating Aaa, namun pengurangan dari pemangkasan otomatis  yang telah disetujui dan efektif mulai tahun 2013 dapat memicu aksi dari Moody’s. “Perubahan pada komposisi pemangkasan belanja tidak akan menjadi pertimbangan rating, pengurangan dari total jumlah akan meningkatkan kenaikan proyeksi hutang pemerintah dalam dekade kedepan dapat menimbulkan implikasi negatif pada rating.” Perdebatan ini menambah kekhawatiran para investor dan bila makin memanas, akan memicu aksi risk aversion atau alih resiko ke instrumen safe haven seperti dollar. Emas ternyata bukan merupakan pilihan utama aset safe haven. Para pelaku pasar lebih memilih dollar AS di tengah ketidakpastian gambaran ekonomi dunia.

Yield Treasury 10y notes turun dari 2.56% pada 5 Agustus ke level dibawah 1.72% pada 22 September. Meski masalah tidak tampak di pasar keuangan, namun problem pada ekonomi mungkin akan lebih besar, jika kongress gagal memperpanjang pemotongan pajak utang, akan berimbas negatif pada banyak penduduk AS, dan mengurangi sekitar 0.5% GDP di 2012, sementara kegagalan untuk perpanjang tunjangan pengangguran akan menyebabkan penurunan tambahan GDP sekitar 0.3%.

Jika dilihat secara umum maka keperkasaan US Dollar tidak terlepas dari buruknya kinerja Zona Eropa dalam menyelesaikan permasalahan krisis hutang yang merupakan benang kusut diakhir tahun 2011. Dollar AS masih kelihatan kuat pekan lalu (grafik kekuatan dollar pekan lalu) terhadap hampir seluruh major currency. Harga-harga komoditi seperti emas, perak dan minyak mentah pun tertekan karena penguatan dollar AS ini. Ini menunjukkan bahwa para pelaku pasar masih mengkhawatirkan keadaan ekonomi global akibat efek negatif dari kondisi ekonomi di Eropa. Indikator masuknya tahap resesi ekonomi diEropa ditandai dengan Lelang obligasi Italia dan Spanyol yang dilakukan pekan lalu menghasilkan yield atau tingkat imbal hasil yang tinggi mendekati ambang batas nyaman di level 7%. Seperti yang telah kita ketahui, Yunani, Portugal dan Irlandia meminta bailout ketika tingkat imbal hasil obligasinya mencapai di atas 7%.  Pelemahan Euro akan berlanjut mengingat Kanselir Jerman Angela Merkel menolak Proposal Komisi Eropa mengenai Euro Bond dan tetap menginginkan perubahan konstitusi Uni Eropa demi pastikan terlaksananya disiplin fiskal. “Usulan obligasi euro mengkhawatirkan,” ujar Merkel kepada parlemen. “Keinginan untuk terbitkan obligasi bersama tidak akan perbaiki kesatuan moneter Eropa.” Komentar Merkel ini muncul jelang pengajuan proposal Komisi Eropa untuk perkuat tata kelola pemerintahan Eropa, termasuk penerbitan euro bonds. Sejauh ini, belum ada solusi akhir untuk selesaikan krisis utang zona-euro yang telah mendorong kenaikan obligasi Italia dan Spanyol dekati level kritis 7%.

About Reza File

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia email : rz_aswin@yahoo.com

Check Also

Party is Over

Reza Aswin, 8 Mei 2017 Party is Over   Bagi para analis Fundamental, ini merupakan …

WhatsApp Hubungi Kami