Tanda Kebangkitan Greenback?

Rina Susilawati, M.A. , 5 Mei 2016

 

Tanda Kebangkitan Greenback?

 

Setelah pada akhir bulan April lalu The Fed kembali menunda kenaikan suku bunga yang menyebabkan index dollar tumbang hingga mencapai titik terendah dalam 16 bulan sejak Januari 2015 yaitu di level 91,89 (03/05), maka saat ini pasar mulai mencari petunjuk tentang arah dollar ke depan. Tentu saja kita bertanya-tanya, apakah titik tersebut sudah merupakan titik bawah bagi dollar dan dollar terdorong untuk kembali menguat?

A. Bull Mulai Nampak

Untuk menelisik jawaban di atas, beberapa hal berikut dapat kita jadikan sebagai petunjuk:

  1. Saat ini index dollar (DXY) telah rebound ke level 93,28 (05/05) atau naik 1,00% dari titik terendahnya. Salah satu faktor yang menyebabkan penguatan ini adalah pesatnya pertumbuhan sektor jasa yang tercermin dari rangkaian rilis data PMI yang melebihi ekspektasi sehingga mengurangi kekhawatiran atas ekspansi ekonomi dalam negeri pada kuartal kedua. Selain itu, trade balance bulan Maret yang baru saja dirilis merupakan gap terkecil selama 13 bulan, begitu pula dengan factory orders yang tumbuh 1,1% melebihi ekspektasi. Data ini positif bagi dollar sehingga menyebabkan dollar terus merangkak naik beberapa hari ini.
  2. Isu kenaikan suku bunga pada bulan Juni kembali dihembuskan oleh Presiden The Fed San Fransisco, John Williams, mengikuti jejak Esther George, President The Fed Kansas, yang pada FOMC Meeting lalu merupakan satu-satunya voter yang menyerukan hike rate 25 bps menjadi 0,50% -0,75%.
  3. Laporan bahwa aktivitas finansial di Departemen Keuangan Amerika sudah memposisikan dollar pada teritori oversold.
  4. Berdasarkan data CFTC aksi jual para investor telah melemahkan dollar selama dua tahun terakhir. Tetapi dollar merupakan safe haven currency sehingga ketika menyentuh level rendahnya, maka aksi beli akan me-recover dollar kembali.
  5. Data China beberapa bulan terakhir menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang melambat serta kontraksi di sektor manufaktur sehingga PBoC berencana akan mengucurkan stimulus untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan pertanda belum kondusifnya ekonomi China sehingga investor akan mengurangi investasi mereka di emerging market dan komoditas–yang berkorelasi erat dengan sehat tidaknya ekonomi China, sehingga mendorong investor untuk kembali membeli dollar.
  6. Pasar saham di Amerika mulai turun sementara harga minyak terus mananjak naik. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh berkurangnya pendapatan perusahaan karena mulai menguatnya dollar.

Beberapa hal ini tentu saja memperkuat greenback untuk saat ini, tetapi harus diingat bahwa ketidakpastian kenaikan suku bunga masih merupakan ancaman utama yang mengakibatkan bimbangnya arah dollar.

 

B. NFP sebagai Leading Indicator

Para pelaku pasar umumnya mempertimbangkan NFP sebagai salah satu panduan arah market. Tentunya kita tahu bahwa NFP merupakan salah satu indikator utama yang dijadikan acuan bagi pemerintah maupun swasta dalam menilai keadaan ekonomi saat ini dan ke depan melalui jumlah tenaga kerja baru yang terserap tiap bulannya. Meningkatnya jumlah tenaga kerja mengindikasikan sehatnya sektor industri dan bisnis, sehingga pekerja baru mendapatkan upah yang dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa yang pada akhirnya memacu geliat ekonomi pada sektor lainnya.

Pada rilis data bulan April, rangkaian data NFP mix yaitu upah pekerja per-jam meningkat 0,3% (forecast 0,2%), terdapat penambahan jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian sebesar 215K (forecast 206K) pekerja, tetapi tingkat pengangguran juga naik menjadi 5% (forecast 4,9%).

Bagaimana dengan NFP bulan Mei ini? Yang perlu diingat adalah bahwa indikator ekonomi, antara satu dengan yang lain saling terkait, begitu juga dengan NFP. Ada dua data dukung yang dilihat oleh para pelaku pasar yang dapat memberikan informasi tentang sektor tenaga kerja Amerika:

  1. ADP Non-farm Employment Change (rilis bulanan)

ADP non-farm employment change bulan ini 156K jauh di bawah ekspektasi 205K dan data bulan sebelumnya 194K. Angka ini merupakan perolehan terendah selama 15 bulan.

  1. Unemployment Claims (rilis mingguan)

Unemployment Claims merupakan jumlah orang yang mengklaim dirinya sebagai penganggur untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. Jika jumlah klaim menurun ‘kemungkinan’ akan terjadi penambahan pada jumlah pekerja baru. Data sebulan terakhir memberikan gambaran: netral pada minggu pertama dan keempat serta penurunan klaims pada minggu kedua dan ketiga.

Melihat data ini tentu saja kita tidak akan berspekulasi apakah data ketiga komponen NFP tersebut akan positif atau negatif untuk dollar, tetapi jika kita amati maka unemployment membaik tetapi employment change menurun, sehingga kemungkinan data akan mix seperti bulan lalu.

 

C. Spekulasi Kenaikan Suku Bunga

Kepercayaan pasar terhadap The Fed mungkin mulai menurun sejak beberapa kali FOMC Meeting, Yellen belum dapat memenuhi komitmennya untuk melakukan gradual hike rate. Sehingga pasca FOMC selalu saja dollar melemah. Tetapi The Fed bisa saja memberi kejutan ditengah maraknya spekulasi bahwa The Fed belum akan menaikkan suku bunga beberapa bulan ke depan. Menurut survey berdasarkan data CME, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga di bulan Juni turun dari 25,2% menjadi 13,1%. Akan tetapi investor juga mengkhawatirkan bahwa data tenaga kerja yang bagus akan dapat merubah nada The Fed menjadi hawkish. Hal ini cukup menjadi alasan bagi investor untuk memburu dollar.

Namun, hal yang tidak terlalu menggembirakan bagi Yellen adalah data inflasi yang semakin hari semakin jauh dari target 2%. Data PCE y/y menurun dari 1,7% pada awal tahun menjadi 1,6% pada bulan April, begitu juga CPI yang terus menurun dari 1,4% (Jan), 1,0% (Feb) dan terus menurun menjadi 0,9% (Mar). Hal ini merupakan beban terberat Yellen sehingga Yellen nampak masih sangat ragu untuk menaikkan suku bunga.

Setelah kita mengetahui faktor yang menyebabkan dollar menguat atau melemah, maka ada baiknya kita senantiasa mengikuti perkembangan data-data ekonomi sebagai petunjuk bagi tindakan The Fed selanjutnya sehingga kita dapat mengambil tindakan dengan tepat dalam upaya memaksimalkan strategi trading kita.

About Reza Aswin

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia, Email : rezafile1966@gmail.com

Check Also

Party is Over

Reza Aswin, 8 Mei 2017 Party is Over   Bagi para analis Fundamental, ini merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Hubungi Kami