The Yuan Impact…..

Reza Aswin | 12 Agustus 2015

 

Peoples Bank of China minggu ini mendevaluasi mata uangnya terhadap US Dollar secara beruntun. Hari senin 6,1, selasa 6,2 dan rabu 6,3, membuat semua investor mulai panik dan free fall terjadi di mata uang komoditi. Sebelum kita membahas efek dari devaluasi yuan, maka ada baiknya kita menyamakan presepsi tentang Devaluasi  Mata Uang.

Devaluasi mata uang adalah suatu tindakan penyesuaian nilai tukar mata uang terhadap mata uang asing lainnya yang dilakukan oleh Bank Sentral atau Otoritas Moneteryang mengadopsi sistem nilai tukar tetap. Devaluasi tersebut biasanya dilakukan apabila rezim yang mengadopsi sistem nilai tukar tetap tersebut menilai bahwa harga mata uangnya dinilai terlalu tinggi dibandingkan nilai mata uang negara lain dimana nilai mata uang tersebut tidak didukung oleh kekuatan ekonomi negera yang bersangkutan. Mata uang suatu negara dikatakan mengalami kelebihan nilai dapat dilihat dari perbedaan inflasi kedua negara. Negara yang inflasinya tinggi seharusnya akan segera mengalami penurunan nilai namun dalam sistem nilai tukar tetap proses penyesuaian tersebut tidak berlaku secara otomatis karena penyesuaian nilai tukar tersebut harus melalui penetapan pemerintah. Tanda-tanda suatu mata uang yang mengalami kenaikan nilai antara lain ekspor yang terus menurun dan industri manufaktur mulai mengalami penurunan kinerja.

PBOC mengatakan ingin membawa yuan lebih sesuai dengan pasar. Faktanya bahwa bank sentral China melihat adanya pelemahan di sektor ekspor (sektor paling penting di China) dan lesunya pertumbuhan ekonomi global. Ekspor China dibulan juli turun 8,3% dibandingkan dengan tahun lalu, sehingga pelemahan mata uang akan membantu membantu eksportir China menjual barang-barang mereka ke luar negeri.

Jika kita analisa maka terlihat China telah kehilangan pasarnya dalam ekspor sehingga dengan cara ini mereka dapat merebut kembali pasar yang telah dimasuki oleh negara lain, walaupun kita mengetahui bahwa ini akan menyulut Neraca Perdagangan di Amerika Serikat yang selama ini defisit terhadapa China. Jika devaluasi mata uang ini berlanjut maka implikasinya adalah : Semua bank sentral akan menekan mata uangnya untuk membantu eksportir negaranya dan pasar komoditas akan tertekan karena melemahnya permintaan di China.

Tentu kita sudah mengetahui pair mana yang harus dibeli pada saat seperti ini.

About Reza Aswin

To contact the editor responsible for this story : Reza Aswin at PT. ABC Future Indonesia, Email : rezafile1966@gmail.com

Check Also

Party is Over

Reza Aswin, 8 Mei 2017 Party is Over   Bagi para analis Fundamental, ini merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Hubungi Kami